Turn back to nature
Karena yang terbaik selalu berasal dari alam
Wednesday, February 27, 2013
Thursday, November 22, 2012
CatPer Ciremai via Linggarjati
Membuat Jejak Di Atap Pasundan
Gn.Ciremai 3078 mdpl ( 3-5 September 2012)
Semangat
adalah Harga Mati
Minggu, 3 September 2012
Pukul 11.00 kumpul di basecamp buat packing
logistik,tenda,dan terutama makanan yang hari sebelumnya kami borong di H*rmony
*ini mau naik gunung apa piknik?!.
Menggunakan mobil (semi) pribadi warna merah
08 (baca :angkot) kami berdelapan –Mahdi ,April,Ain,Ka
Deka,Adit,Chahya,Yusuf,Ka Relly- bergegas menuju Stasiun Pondok Ranji. Dari stasiun ini menuju ke
Stasiun Jakarta Kota kami hanya perlu
mengeluarkan ongkos setara dengan 3 gorengan, alias seribulimaratus.
Murahmeriah. Tapi ada harga ada rupa, disaat PT KAI sedang melakukan perombakan
besar-besaran mengenai ticketing kereta api jarak jauh, kereta lokal ini justru
seolah tidak dipedulikan,kotor dan tidak terawat.
Saat jam menunjukkan pukul 13.58 kami tiba di
Stasiun Jakarta Kota. Karena kereta
Tegal Arum yang akan membawa kami ke Cirebon
sudah datang maka kami segera masuk saja ke peron kereta tersebut. Saat
pengecekan tiket di depan peron kami baru menyadari bahwa Chahya dan Ka Deka
yang berjalan di belakang hilang!! Lima menit, sepuluh menit,lima belas menit
kami menunggu mereka,ah,mungkin mereka sudah lebih dahulu masuk ke gerbong
tanpa melewati peron maka kami putuskan untuk masuk ke kereta. Sampai di dalam
ternyata mereka belum ada, kami mulai bertanya tanya, bagaimana kalo mereka
tersesat?atau diculik?atau menjadi korban pembiusan?*adegan ini
dilebih-lebihkan. Sambil berharap tidak terjadi sesuatu hal yang buruk kami
menunggu mereka di depan pintu masuk peron. Tak lama kemudian, dengan wajah
bersinar berseri-seri mereka melangkahkan kaki menuju kami,
April : “ Chay, soko ndi (darimana)?”
Chahya : “makan pecel dulu tadi, laper”
*dengan tampang tak berdosa.
April : “#%$#%^%$”
Kami pun akhirnya tergoda oleh pecel dan
penjualnya.tancap!
Pukul
15.00 akhirnya Tegal Arum mulai melaksanakan kewajibannya menuju Cirebon.
Dengan harga tiket limabelas ribu rupiah Kereta Ekonomi Jarak Jauh ini bisa
menjadi pilihan yang baik. Sepanjang perjalanan kami cukup terhibur oleh
banyaknya pedagang yang menjajakan berbagai macam barang dagangan.daripada
sepi.
Sorak sorai penggemar menyambut kedatangan
kami di stasiun Cirebon Prujakan *mengkhayal.
Ka Relly sudah sampai duluan
disana dari Tegal.Karena sudah malam kami putuskan untuk mencarter angkot menuju Linggarjati.
Karena perbedaan persepsi mengenai ‘pintu masuk gn.ciremai’ pak sopir mengantar kami menuju Linggasana,
tapi ya tidak apalah.
Kami tiba di basecamp Linggasana (21:19). Disini
kami melengkapi administrasi,menyerahkan fotokopi ktp dan no hp yg kemungkinan
baterainya masih bisa bertahan. Lapar, kami makan bekal abon ikan cakalang Ain,
habis itu langsung tertidur pulas.
Pukul
0720 kami siap untuk berangkat setelah sebelumnya membeli sayur di dekat
basecamp karena dalam pendakian ini
kami menganut prinsip “say no to instant nooddles’ :D . tak lupa sebelumya kami
berdoa agar ekspedisi ini lancar, karena puncak hanya bonus dan bisa pulang
kembali ke rumah adalah sebuah keberhasilan .
Pasukan telah siap tempur setelah diisi bahan bakar sayur tahu dan telur
goreng.nyamnyamm
Foto duluu....
(ki-ka : mahdi, ka
relly, adit,ain,april,chahya,yusuf,ka deka @ Basecamp Pendakian Gn.Ciremai via
Linggasana)
Pintu masuk tersenyum lebar saat kami datang
(pada akhirnya nanti kami mengetahui maksud senyum lebar pintu masuk ini -__-)
(Chahya,Adit,Yusuf,Mahdi,Ain di Pintu masuk pendakian Ciremai Via
Linggasana)
Jarak
yg harus dtmpuh
h
x
maka panjang lintasan = akar (h2+x2)
= panjaaaaaaaaaaaaaaanggggggggg (sekitar 8 km jika melalui jalur)
Untuk mencapai puncaknya butuh waktu sekitar 12-16 jam tergantung dari fisik
pendaki. Gunung ini memang tidak terlalu tinggi , namun karena start pendakian
dimulai dari 750 m membuat perjalanan cukup panjang. Dari semua gunung di tanah
jawa, hanya Ciremai lah yang start pendakiannya dimulai dari 750 mdpl. Jalur
pendakiannya 90 persen berjalur terjal dan sudut kemiringan 70-80 derjat
(sumber : posmo.net/RUBRIK/427/peristiwa.html)
Dari pintu masuk-Kikuwu treknya tidak terlalu
naik, di kiri kanan banyak bumi perkemahan,hutan pinus dan monyet. Sampai di
Kikuwu(08:20) kami mengisi botol-botol
yang sudah kosong, karena kemungkinan ini sumber air terakhir yang bisa kami
dapat selama perjalanan. Ciremai termasuk gunung yang ‘hemat’ air apalagi kami
naik di musim kemarau.
Kikuwu-Condang Amis . treknya dominan padang
ilalang, landai saja sekali dua kali berkali kali nanjak, terik matahari dan
debu membuat laju dehidrasi dan nafas meningkat cepat.
Bagaikan oase di padang pasir saat kami
melihat plang bertuliskan “sumber air” sebelum sampai di Condang Amis. Beberapa
dari kami memutuskan untuk mengambil air. Namun seperti halnya terkadang oase,
sumber air ini hanya sebuah fatamorgana. kering sodara-sodara!!
Tapi yasudahlah,lanjut saja. Sampai juga di
Condang Amis,1250 mdpl (10.15). Disini
merupakan pertemuan jalur Linggasana dan Linggajati ada shelter kecil yang bisa
digunakan untuk beristirahat
(Condang Amis)
Lanjut perjalanan ke pos berikutnya Kuburan Kuda, trek sudah mulai tanjak
menanjak terjal tapi untung tidak licin, akar-akar pohon menjadi penolong di
trek ini. Sekitar 45 menit kami tiba di Blok Kuburan Kuda ,1450 mdpl (11:00).
Beristirahat sebentar mengatur nafas
(Adit , Mahdi @ KUburan Kuda)
Kenapa tempat ini dinamakan kuburan kuda? Ada
dua versi cerita , yang pertama tentara belanda berkuda mengejar tentara
jepang yang melarikan diri sampai ke
gunung Ciremai, si kuda kelelahan dan akhirnya mati, akhirnya di kubur di
tempat ini. Versi yang kedua tokoh
tentara jepang digantikan oleh para pejuang Indonesia.
Kuburan kuda-Pangalap. Bonus adalah sebuah khayalan tingkat tinggi,
trek-trek semakin terjal dan menanjak dari sebelumnya, Otot-otot kaki mulai
terasa kram. Tengah hari, akhirnya kami tiba di Pangalap 1650 mdpl (12:23).
Disini kami istirahat sekitar setengah jam untuk shalat dan mengganjal perut
dengan roti tawar susu coklat,lumayan buat tambahan tenaga.
(Ka Deka ,
Chahya shalat @ Pangalap)
(April ,Ain @Pangalap)
Setelah refresh jasmani dan rohani, langsung
capcus berangkat lagi, komandan kontingen (ka deka) mengintruksikan agar sudah
keluar dari hutan sebelum gelap *bakalan ngeri juga kalo malam-malam ketemu
‘kakek’ di hutan. Kami mengecek nama pos
setelah Pangalap di kamera, Tanjakan Bingbin, Tanjakan Seruni, tanjakan?!*glek.
jika trek yang bonus adalah khayalan tingkat tinggi tadi tidak disebut tanjakan
lalu seperti apakah yang disebut Tanjakan di Ciremai ini?! *elus elus dengkul
Pangalap-Tanjakan Seruni-Bapa Tere
Setelah melewati tanjakan ini sepertinya dengkul
kita akan mendapatkan predikat Dengkul
Dewa. Tidak banyak kata-kata yang bisa mengungkapkan trek ini karena nafas juga
hampir habis hehe. Kelompok Pelan-Pelan saja ( Mahdi,April, Ain,Yusuf,Ka Relly)
mulai tertinggal jauh dari kelompok Calon Porter (Chahya, Ka Deka),raut-raut
wajah frustasi sudah mulai tampak. Jalur
memang jelas kelihatan tetapi untuk melangkah kami harus berpikir keras mau
taruh kaki dimana pegangan apa agar bisa naik barang sejengkal :D. akar-akar pohon seruni menjadi penolong kami berpegangan . Hutan masih lebat tanjakan masih panjang,
semangat semangat!
Batu Lingga-Sangga Buana I-Sangga Buana II
Udara mulai dingin di Sangga Buana II saat
kami menunggu tiga orang yang di belakang (Mahdi,Yusuf, Ka Relly) setelah
melewati Pos Batu Lingga dan Sangga Buana I. Kami menemukan botol berisi air
yang mungkin ditinggalkan pendaki yang lain ketika turun.Berkah yang luar biasa
:D. Saat di Batu Lingga, Mahdi mulai
kesal karena terus terusan diikuti tawon hitam *trauma Gn.Salak ,belakangan
kami tahu kalau tawon hitam itu juga merupakan objek perbincangan para pendaki
selain Burung Jalak hitam paruh kuning yang kami temui di Sangga Buana II.
Menurut cerita, kedua hewan ini mulai mengikuti pendaki dari Pangalap (yang
berarti ‘jemputan’) sampai Seruni atau puncak. Karena hari hampir gelap maka
kami putuskan untuk berjalan terlebih dahulu,mata kami tertuju pada sebaris
tulisan di sebuah pohon “ SEMANGAT ADALAH HARGA MATI”, kami resapi dalam dalam
kalimat itu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pengasinan, pos terakhir
sebelum puncak
Pengasinan
Gelap sudah menyelimuti bumi saat perjalanan menuju
Pengasinan. Angin dingin juga sudah
mulai terasa.Jalurnya? jangan ditanya lagi,masih sama seperti jalur
sebelumnya. Perasaan frustasi kembali
membayangi tetapi kami tepis jauh-jauh karena tersemangati oleh kata-kata
“sebentar lagi nge-camp” “sedikit lagi” “satu tanjakan lagi”. Di sini kami melihat
perpaduan sempurna, langit malam tanpa
polusi cahaya, taburan ribuan bintang dan gemerlap lampu kota-yang biasanya
saling meniadakan- berpadu secara sempurna. Tiba di pos Pengasinan (2800 mdpl ;
18:20) kami langsung mendirikan tenda dan memasak makan malam, nasi dan ikan
sarden jadi menu utama,ubi ungu rebus menjadi tambahan dan tempe ‘agak busuk’
goreng menjadi menu pelengkap. Badan
lelah ditambah perut kenyang adalah komposisi yang tepat untuk segera tidur.
Lima orang di tenda pertama, dua orang kaum hawa+carrier+barang2 di tenda kedua
dan satu orang diantara dua tenda
05.16 pagi. Kami terbangun saat sinar matahari
sudah mulai memasuki tenda. Sepertinya tidak ada yang bangun buat summit atack
mengejar sunrise :D ,tapi cukup indah
juga kok sunrise di pengasinan. Tak lupa
foto-fotoo..
(Ain, April, Mahdi, Ka Relly, Adit, Yusuf @Pengasinan)
Setelah mendapatkan pasokan bahanbakar berupa
telur dadar dan nasi pecel kami segera mem-packing kembali tenda dan
barang-barang lainnya untuk menuju puncak (09.15). Jangan dilupakan
juga,sampahnya!.
(botol-botol kosong @
Pengasinan)
Puncak Ciremai .3078 mdpl (10.15)
Waaaa......akhirnya tiba juga di tanah
tertinggi di Jawa Barat setelah melewati perjalanan berdebu satu jam dari
Pengasinan. Ucup sempat terlihat sesak nafas, untung tidak sampai pingsan,
masker atau penutup hidung lainnya sangat disarankan saat mendaki gunung di
musim kemarau. Bunga-bunga edelweis
banyak yang bermekaran,cantik, tapi sayang banyak pohonnya yang tumbang karena
dijadikan sebagai pegangan,bibit-bibit edelweis kecil juga banyak yang mati
karena terinjak-injak :’(. Padahal tanaman dari genus Anaphalis ini sudah dikategorikan
tanaman langka. Katanya pecinta alam?!. Oke.,Kembali ke euforia puncak, tak
lengkap rasanya kalau tidak bernarsis ria di puncak. Berbagai gaya berlatar
kawah gunung ciremai terabadikan di
kamera. Angin berhembus kencang,matahari semakin tinggi, penambahan koleksi
foto pribadi tetap dilanjutkan :D
(Ain,Mahdi,Ka Relly,
April,Adit,Yusuf,Chahya @ Puncak Ciremai)
Tuhan, Kau berada di tempat yang tinggi
Maka kami mendaki untuk mendekatkan diri
Berada di sini, secuil lebih dekat denganMu
Kami menemukan indahnya cintaMu
Merasakan kedamaian
Yang sesederhana deru angin
Dan semegah luas mega.
Matahari tepat berada di atas kepala saat kami
mulai turun lewat palutungan, setelah sebelumnya membasuh tenggorokan dengan es
buah (12.01). jalur palutungan termasuk landai jika dibandingkan dengan Jalur
yang lain, tetapi jalurnya panjang.
(es buah @Puncak
Ciremai)
Dari puncak sampai Pos Sanghyang Ropoh jalurnya berbatu agak curam, dan berdebu.
Harus ekstra hati hati agar tidak terpeleset lalu terguling-guling. Kami temui beberapa nisan in memoriam dari
pendaki yang kembali ke pangkuanNya saat disini. Tiba di pos Sanghyang Ropoh
(13.15) kami langsung melanjutkan ke pos berikutnya, lima belas menit kemudian
tiba di Pos Pesanggrahan. Dua jam berjalan kami beristirahat di di Tanjakan
Asoy (14.00). Di sepanjang perjalanan banyak himbauan himbauan yang berisi
tentang bahaya kebakaran dan terutama sampah para pendaki,banyak tempat datar
yang bisa digunakan untuk camp disini jadi resiko kebakaran yang disebabkan
oleh api unggun lebih besar. Dari semua tulisan-tulisan tadi yang paling ‘jleb’
*menurut saya ,yaitu “Kebersihan Lebih Indah daripada Puncak” ,mengingat masih
rendahnya kesadaran para pendaki untuk membawa pulang sampah (paling tidak
sampah mereka sendiri) agar tidak mengotori dan merusak ekosistem.
Arban,2050 mdpl (14.12).kabut-kabut tipis
mulai turun kanopi-kanopi dahan terlihat lebih lebat di jalur ini daripada di
Linggasana, banyak pohon-pohon besar yang tumbang. Kami tiba di pos terakhir sebelum
rumah penduduk, Cigowong 1450 mdpl (15.00) setelah melewati Paguyangan Badak
(apa dulu ini tempat mandi badak ya?)
dan Kuta (berasa di Bali) ,disini ada sumber mata air dan tempat camp
yang luas. Biasanya ni ya, biasanya, dari pos terakhir sampai ke rumah penduduk
itu tidak terlalu jauh, tapi ini mah
berasa lebih jauh dari Puncak sampai Cigowong. Sampai di rumah penduduk kami beristirahat di
rumah pegawai kehutanan taman nasional. Setelah mandi bersih-bersih kami
langsung sewa angkot ke terminal (21:34), Kemudian naik bis ke jakarta dengan
tarif yang mengagetkan ,Tujuh puluh ribu rupiaaah, padahal biasanya katanya 40
ribu doang (efek lebaran kali ya). Turun di Pasar Rebo, cari-cari metromini ke
Lebak bulus. Akhirnya menghirup kembali udara Pondok Betung setelah turun dari
angkot 08. J
Catatan kaki :
Transportasi :
Jakarta Kota-Cirebon Prujakan (kereta tegal
arum) : 15k
Stasiun-Basecamp linggasana (sewa angkot) :
150k
Administrasi : @lk 10k
Basecamp Palutungan-terminal (sewaangkot) :
100k
Kuningan-Jakarta (pasar Rebo) : 40-70k
Ps.Rebo-lebak bulus : 2k
Lebak bulus-ponbet : 2k
Kendaraan umum terakhir dr stasiun pukul
21.00, jika tidak sewa angkot untuk ke basecamp linggarjati atau linggasana
dari stasiun ke terminal naik angkot, kemudian naik minibus, lalu angkot lagi.
Thursday, July 14, 2011
Pengharum Ruangan Alami
Bunga masih menjadi salah satu pilihan favorit arome pengharum ruangan. Jadi,letakkan saja bunga-bunga segar,seperti melati,mawar,sedap malam, dan sebagainya. Ganti bunga ketika mulai layu.
Cara lain mengharumkan ruangan,yaitu dengan menggunakan jeruk nipis yang dibakar, perasan airnya diteteskan ke dalam wadah lilin. Hal itu bisa menghasilkan wangi jeruk yang sangat khas. Atau tusuk jeruk lemon dan beberapa cengkih,kemudian gantungkan di dekat pendingin udara.Aromanya akan membuat segar ruangan. Sensasi wangi lain dapat dihasilkan dari daun pandan,cengkih dan kayu manis. Letakkan di wadah unik. Aromanya tidak kalah dengan semprotan pengharum pabrikan.
Bila mau lebih bervariaso,dapat pula dengan irisan kulit jeruk, kayu arang atau batok arang yang baik karena dapat mengikat unsur karbon monoksida dalam ruangan. Gantilah bila wanginya sudah mulai tak terasa. Selain bisa dijadikan pengharum ruangan, bia juga dijadikan sebagai pengharum kamar mandi.
READ MORE - Pengharum Ruangan Alami
Cara lain mengharumkan ruangan,yaitu dengan menggunakan jeruk nipis yang dibakar, perasan airnya diteteskan ke dalam wadah lilin. Hal itu bisa menghasilkan wangi jeruk yang sangat khas. Atau tusuk jeruk lemon dan beberapa cengkih,kemudian gantungkan di dekat pendingin udara.Aromanya akan membuat segar ruangan. Sensasi wangi lain dapat dihasilkan dari daun pandan,cengkih dan kayu manis. Letakkan di wadah unik. Aromanya tidak kalah dengan semprotan pengharum pabrikan.
Bila mau lebih bervariaso,dapat pula dengan irisan kulit jeruk, kayu arang atau batok arang yang baik karena dapat mengikat unsur karbon monoksida dalam ruangan. Gantilah bila wanginya sudah mulai tak terasa. Selain bisa dijadikan pengharum ruangan, bia juga dijadikan sebagai pengharum kamar mandi.
Saturday, July 9, 2011
Pembersih Rumah Alami
JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia)
Untuk membersihkan barang pecah belah,perak,tembaga,gunakan irisan jeruk nipis.Poles perabot dengan campuran satu cangkir minyak zaitun dan setengah cangkir jus jeruk nipis.Sedangkan noda karat pada meja marmer dapat dihilangkan dengan menggosoknya dengan belahan jeruk nipis yang sudah dibubuhi garam.Untuk membuat kaus kaki putih dari katun cemerlang kembali dan tidak berbau,rebus dalam air yang telah dibubuhi irisan jeruk nipis.
JERUK LEMON

Untuk membersihkan talenan dan sisa minyak di meja dapur,lemon dipotong lalu digosokkan pada perabot tersebut. Selain membersihkan noda,lemon juga berguna sebagai disinfektan.Lemon juga bisa menjadi pengharum dapur alami. Caranya,rebus air jeruk lemon dan beberapa cengkeh selama 20 menit. Baunya akan mengharumkan ruangan dapur.Jadi tidak perlu menggunakan bahan kimia untuk mengharumkan dapur.
LERAK (Sapindus rarak De Candole)
lerak atau lamuran adalah tumbuhan yang dikenal karena kegunaan bijinya yang dipakai sebagai deterjen tradisional terutama untuk mencuci batik,karena dianggap sebagai bahan pencuci paling sesuai untuk menjaga kualitasnya,terutama warna batik.
Biji lerak mengandung saponin. Saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai pembersih berbagai peralatan dapur,lantai bahkan untuk memandikan dan membersihkan binatang peliharaan. Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektida. Buah ini dapat didapatkan di pasar tradisional.
Cara untuk menggunakan biji lerak ini sebagai sabun terbilang mudah.Panaskan 300 ml air hingga mendidih. Setelah mendidih matikan api dan masukkan tiga butir biji lerak ke dalam air mendidih. Setelah menjadi hangat,remas-remas biji lerak hingga berbuih.
TEMBAKAU
Akibat sering terkena debu dan kotoran,kaca rumah seringkali menjadi buram. Wah,pasti terlihat jorok. Padahal hampir setiap hari dilap dan dibersihkan.Solusinya cukup dengan tembakau.Caranya, rendam tembakau berkualitas rendah 1-2 ons selama 15 menit. Setelah itu celupkan kain kedalam rendaman tadi,diperas dan digunakan untuk membersihkan kaca.Terakhir gunakan lap bersih sebagai akhir dari penyempurnaanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)